Senin , 12 April 2021
Home » BERITA » Sambutan Sekjen AJI Indonesia di Konferta AJI Kota Mandar

Sambutan Sekjen AJI Indonesia di Konferta AJI Kota Mandar

MAJENE – Pelaksanaan Konferensi Kota ke III Aliansi Jurnalis Indipenden (AJI) Kota Mandar dihadiri langsung oleh Sekjen AJI Indonesia, Arfi Bambani. Acara konferensi dilaksanakan di salah satu ruangan STIKES Bina Bangsa Majene, Sabtu 17 Desember. Berikut sambutan Ketua AJI Indonesia.

Jurnalisme mendapat tantangan, khususnya dari media sosial, dalam hal ini fenomena hoax. Masyarakat itu anggap kebenaran sebab dibagi oleh kenalannya di media sosial. Sayangnya para jurnalis, sering kali mengutip medsos. Kemudian memberitakannya tanpa ada konfirmasi. Ini problem mendatang, ketika dihadapkan pada persoalan-persoalan, kebangsaan. Bagaimana masyarakat terbelah oleh isu SARA. Itu yang terjadi belakangan ini.

Jurnalis ikut-ikutan terjebak di media sosial. Ini fenomena di dunia, bukan hanya di Indonesia. Fenomena tersebut diistilahkan “feak news”. Kita sebagai jurnalis harus melakukan koreksi diri tentang cara kita bekerja. Saya mengutip bang Hasabuan Sirait. Kita bekerja seperti di rel, ada kiri dan kanan. Kedua-duaanya tidak pernah ketemu tapi selalu seiring. Maksudnya, kita harus selalu melakukan verifikasi, mengecek setiap sumber. Ketika ada nara sumber mengutip sumber yang lain, yang disebut itu harus kita cek juga. Ketika kita bekerja dengan sistem itu, kita bisa menghindar dari sengketa pers.

Kemarin dari Tanjung Pinang, ada jurnalis, ternyata dia tidak melakukan konfirmasi. Dia dilaporkan ke polisi. Fenomena itu banyak terjadi di luar Jawa. Ini harus jadi intropeksi bersama. Ketika melakukan penyajian berita dengan standar, kita bisa terhindar dari masalah. Ada seorang anggap pejabat korupsi, dia menuduh. Tanpa melakukan konfirmasi, itu sudah bersalah secara etik. Paling banyak media online.

Apa kaitan dengan teman-teman di sini? Raker pertama AJI, dari Sulbar tidak ada yang hadir. Saya terus terang menilai, AJI di sini paling banyak jarang kegiatannya. Saya coba ke Mamuju pakai darat. Memang jarak sangat memisahkan, koordinasi makin sulit. Ini problem kepengurusan. Jadi buat kegiatan sangat sulit. Organisasi tidak efektif berjalan. Saya bicara sama ketua AJI Mandar mungkin perlu dikembangkan dulu kepemimpinan di Majene atau Polman dulu. Kemudian Mamuju yang semakin berkembang, khususnya sebagai sumer berita makin vital. Pelan-pelan yang harus dilakukan harus ada pemisahan. Di beberapa provinsi seperti itu. Kepulauan Riau, AJI-nya di Batam meski ibukotanya di Tanjung Pinang. Ini penting agar organbisasi dekat ke anggota. Seharusnya AJI berperan menjemput bola. Mengakomodasi. Bukan kewajiban anggota dulu. Apa yang bisa dilakukan organisasi dulu untuk anggota.

Media massa menjadi sarana impresi. Kalau jurnalis tidak profesional, dia bisa seperti medsos, bisa seperti pemerintah. Saya berharap dengan konferta ini bisa memikirkan kelangsungan organisasi secara lebih baik. Kegiatan rutin dilakukan. Jangan sungkan-sungkan minta ke AJI Indo.

Saya baru datang dari Paris, banyak sekali perkembangan kita di Indonesia tidak ketinggalan-ketinggalan amat. Tapi perlu mengasah diri lebih banyak. Kita punya ahli-ahli jurnalis di sini. Panitia tinggal menyurati email ke pengurus. AJI Indo sering biayai, bantu-bantu, malah AJI Kota Mandar tidak pernah. Semoga kepengurusan yang terbentuk bisa lebih aktif, mengakomodasi anggotanya. (ridwannews.com)

About admin

Check Also

AJI Kota Mandar Kembali Gelar GIN dan Halfday Workshop

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar bekerjasama dengan Google News Initiative (GNI), Internews dan AJI ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *