Senin , 1 Juni 2020
Home » AGENDA » Workshop Safety of Journalist di Manado

Workshop Safety of Journalist di Manado

Manada – Sejak awal tahun 2016 hingga kini, the International Federation of Journalist (IFJ) mencatat sebanyak 107 orang jurnalis telah dibunuh di berbagai belahan dunia, dan lebih dari 90 persen dari jurnalis yang dibunuh adalah lokal jurnalis. Hal ini mengindikasikan adanya krisis terhadap keamanan jurnalis itu sendiri.

Sehubungan dengan itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan IMS dan IFJ menyelenggarakan workshop Safety of Journalist di Hotel Best Western Lagon, Manado. Selama dua hari, workhsop ini digelar dan diikuti kalangan jurnalis di Manado dan kota-kota lain seperti Gorontalo, Makassar, Mandar, Ternate, dan Denpasar.

Saat membawakan materi, Aryo Wisanggeni, fasilitator dari Divisi Advokasi AJI Indonesia mengatakan, AJI itu lahir akibat kekerasan dan pembredelan media tahun 21 Juni 1994. Hal itu akibat rezim pemerintah saat itu. Melalui workshop ini, Aryo membagi dua bentuk upaya yang mengancam keamanan jurnalis saat meliput. Keduanya adalah kekerasan fisik dan non fisik. Kekerasan fisik mengakibatkan kerugian fisik, mulai dari luka ringan hingga meninggal dunia.

“Sedangkan non fisik seperti menghalangi kerja jurnalistik misalnya pelarangan liputan, pengusiran, perusakan atau perampasan alat kerja jurnalis, pendudukan kantor jurnalis, intimidasi, unjukrasa dan lain-lain,” kata Aryo saat menyampaikan materi.

Lanjut Aryo, berbagai macam pemicu kekerasan terhadap jurnalis. Mulai dari berita yang kritis dan mengancam penguasa, liputan pada daerah tindak pidana atau pelanggaran HAM. Ada juga karena ketidakprofesionalan jurnalis itu sendiri. Seperti memihak dan tidak netral.

Pada kesempatan ini, Aryo juga menjelaskan cara-cara yang harus dilakukan jurnalis atau AJI Kota saat mengadvokasi kasus kekerasan. Pesan pentingnya, melakukan kajian terlebih dahulu. Utamanya atas persetujuan dan mengedukasi jurnalis yang menjadi korban kekerasan.

Aryo juga menyampaikan, para peserta yang berasal dari berbagai AJI Kota ini harus melaporkan ke AJI Indonesia setiap terjadi kasus kekerasan. Pelaporan itu bisa melalui situs advokasi.aji.or.id. Pada seluruh data yang dibutuhkan harus diupload ke situs tersebut agar segera bisa ditindaklanjuti dan menjadi database AJI Indonesia.

Pada hari pertama workshop, panitia menyiapkan tiga pemateri. Diantaranya, Korwil AJI Indonesia Timur, Upi Asmaradhana dan dari AJI Kota Jayapura, Victor Mambor. Termasuk Aryo Wisanggeni.

Advokasi adalah Edukasi Tanpa Batas

Workshop Safety Journalist di Hotel Best Western Lagon, Manado, Sulawesi Utara (Sulut) memasuki hari kedua, Minggu 29 Oktober 2017. Hari terakhir wokshop yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerja sama dengan The International Federation Journalist (IFJ) ini membahas soal keamanan jurnalis saat liputan.

Termasuk saat jurnalis itu mengalami masalah kekerasan fisik, non fisik maupun yang berhadapan dengan hukum. Kali ini, panitia menyediakan empat pemateri. Antara lain, Kordinator AJI Indonesia Timur, Upi Asmaradhana, Divisi Advokasi AJI Indonesia, Aryo Wisanggeni, dari opini.co.id, Nining Damayanti dan AJI Kota Jayapura, Victor Mambor.

Pada kesempatan ini, Upi memberi pelatihan kepada sejumlah jurnalis tentang advokasi jurnalis. Kata Upi, poin utama dalam mengadvokasi itu adalah mengedukasi semua pihak yang terkait jurnalis.

“Esensi advokasi adalah edukasi tanpa batas. Semua pihak adalah kawan, termasuk lawan sekalipun. Biarkan publik yang memberi penilaian dan memberi penghukuman atas kasus yang berjalan,” kata Upi.

Dalam mengadvokasi, tim harus mengkaji mendalam segala bentuk kekerasan yang terjadi. Utamanya, meyakinkan publik bahwa jurnalis itu bekerja untuk mereka. Advokasi ini dilakukan untuk menjamin kebebasan pers yang profesional.

“Meskipun hakim memutuskan kita salah dan memenjarakan kita tapi dimata publik kita menang. Keberhasilan advokasi itu tercapai saat publik bersama kita,” jelas Upi.

Sementara itu, Aryo Wisanggeni lebih memberikan materi praktek dalam melakukan advokasi. Selain itu, Nining Damayanti bawa materi soal keamanan perangkat telekomunikasi para jurnalis yang juga dinilai sangat penting. Terakhir, Victor Mambor menjelaskan pengalaman saat meliput di Papua dengan memperhatikan faktor keselamatan.

Sebanyak 15 anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengikuti Workshop Safety of Journalist di Manado, Sabtu – Minggu (28-29/10/2017). Selama dua hari, peserta digembleng soal karakteristik kekerasan terhadap jurnalis dan penanganannya.

Ketua AJI Manado, Yoseph Ikanubun saat membuka kegiatan mengatakan kekerasan terhadap jurnalis di Manado masih terus menjadi ancaman dari tahun ke tahun. Meski dalam lima tahun terakhir tidak ada kekerasan berarti yang dialami wartawan, pasca terbunuhnya wartawan harian Metro, Aryono Linggotu. “Tapi yang terjadi di Manado adalah persnya malah yang belum bebas karena lebih banyak terkungkung pada pemilik modal, politik dan pemerintahan,” ujarnya.

Di hari pertama, fasilitator Aryo Wisanggeni memaparkan AJI fokus kepada advokasi kekerasan terhadap jurnalis karena lahir disaat adanya kekerasan yang dilakukan oleh penguasa negeri ini terhadap media.

“AJI lahir saat Soeharto membredel tiga media yaitu Tempo, Detik dan Tabloid, dimana saat wartawannya mewakili hak warga untuk mendapatkan informasi melalui medianya masing-masing,” kata Aryo. Dikatakannya, ada beberapa faktor pemicu kekerasan terhadap jurnalis seperti pemberitaan yang kritis dan mengancam penguasa, berada di lokasi terjadinya tindak pidana atau pelanggaran HAM. Pemberitaan yang tidak profesional, tidak netral dan ketersinggungan terhadap berita juga menjadi alasan karena tidak paham dengan kode etik jurnalis.

“Kita tidak mengadvokasi jurnalis, tetapi mengadvokasi jurnalis yang melakukan kerja-kerja jurnalistik dan karya jurnalistik yang dihasilkan,” terangnya. “Satu-satunya alasan untuk menjadi wartawan adalah karena bisa berbuat baik dengan karya jurnalistik kita,” tutup Aryo.

Sesi berikutnya, Victor Mambor mengupas tuntas materi membangun kapasitas advokasi AJI Kota Nonlitigasi. Dia berharap anggota AJI dapat membangun jaringan advokasi dengan kelembagaan sevisi di wilayah AJI Kota dan membuka jaringan dengan advokad setempat.

Jupriadi Asmaradhana menutup workshop hari pertama dengan materi perumusan strategi advokasi. Ada beberapa contoh strategi ketika mengadvokasi jurnalis yang terjerat hukum yaitu dengan cara melakukan kampanye, safe house, alert, rilis pers dan memainkan peran sosial media, unjuk rasa dan membuat petisi.

Hari kedua workshop, peserta yang berasal dari Manado, Ternate, Gorontalo, Mandar dan Makassar dimatangkan dengan materi penanganan kasus kekerasan (Litigasi) melalui video dokumenter kriminalisasi wartawan Metro TV Jupriadi Asmaradhana oleh Kapolda Sulsel di tahun 2008 silam. Strategi pengawalan proses hukum dengan memainkan jejaring udara membuat kasus yang dihadapi terkawal dengan baik hingga ke pengadilan.

Peserta juga digembleng oleh Ninin Damayanti dari Mafindo/opini.co.id, agar bisa menyembunyikan atau melindungi data dan informasi agar tidak dapat diakses baik dengan cara fisik atau elektronik oleh orang lain. “Bila data dan informasi tidak dilindungi, maka bisa diakses oleh orang yang tidak bertanggungjawab dan mengambil keuntungan,” ucap Ninin.

Workshop Safety of Journalist ini digagas oleh IFC pada awal tahun 2016, yang mencatat 107 orang jurnalis terbunuh di berbagai belahan dunia dengan 90 persen diantaranya adalah lokal jurnalis. Hal ini mengindikasikan adanya krisis terhadap keamanan dan perlindungan jurnalis yang masih lemah.

Sejak Juni 2016 hingga Desember 2017, IMS dan IFJ (the International Federation of Journalists) sedang mengumpulkan berbagai model yang menjadi best practice dalam safety of journalist (keamanan bagi jurnalis) di berbagai wilayah seperti Colombia, Philippines, Pakistan, Indonesia, Irak, Afganistan, dan Nepal.

Hasilnya akan digunakan sebagai bagian dari studi penelitian global yang ditujukan untuk memberikan informasi kepada praktisi media lokal, pemangku kebijakan, dan organisasi pengembangan media yang bekerja untuk memperbaiki keamanan bagi jurnalis di tujuh negara tersebut dan juga negara lainnya.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang mempunyai visi yang sama dalam memberikan advokasi kepada jurnalis, kemudian bekerjasama dengan IMS dan IFJ (the International Federation of Journalists) dengan menyelenggarakan training mengenai Safety of Journalist.

(Irwan)

About admin

Check Also

Diskusi Publik #saveKPK

MAJENE – Penolakan terhadap upaya pelemahan KPK, baik dalam proses pemilihan komisioner KPK dan revisi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *